Lanjut ke konten

Guru Malas Buat RPP Pelajaran Tidak Up to Dat

26 November 2011

KONSEP pendidikan yang diterapkan saat ini dinilai sudah kedaluwarsa. Penyebabnya, sebagian besar guru malas membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Akibatnya, siswa hanya dicekoki pelajaran yang tidak up to date.

Pengamat pendidikan Sumsel Yohanes Agus Taruna mengungkapkan,dari hasil penyelidikannya, RPP yang merupakan pedoman guru dalam memberikan pelajaran kepada siswa tidak mengalami perubahan dari tahun ke tahun. Kemungkinan besar guru hanya copy paste dari RPP sebelumnya. “Kita melihat RPP yang diterapkan guru saat ini sama. Bisa kita katakan hanya copy paste. Yang membedakan hanya tanggal, bulan dan waktu. Kalau metodenya seperti ini terus, bisa mengancam karakter pendidikan anak Indonesia. Apa yang diberikan selalu sama dari tahun ke tahun,” katanya kemarin.

Seharusnya, katanya, seorang guru tampil sebagai pemimpin dan memberikan contoh yang baik bagi siswanya. Sebab, anak-anak yang menerima pelajaran dari guru akan menjadi pemimpinpadamasanya kelak. Hal ini sesuai filosofi yang diberikan bapak pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara, seperti Ing NgarsoSing Tulodo, Ing MadyoMangun Karso, Tut Wuri Handayani. ”Sudah seharusnya teacher as a leader(guru adalah pemimpin), karena anak-anak yang menerima pelajaran tersebut akan menjadi pemimpin di masanya,” tandasnya.

Yohanes yang juga owner Super Bimbel GSC dan Super Briliiance Kids (SBK) ini menilai, seorang guru paling tidak harus memiliki empat hal, yakni vision, skill, character and service. Vision, seorang guru memiliki target yang jelas dalam setiap project. Skill, seorang guru harus mampu memberi pengaruh kepada siswa dan orang tua. ”Seorang guru juga harus memiliki karakter yang kuat sehingga tidak mudah menyerah dengan segala kondisi, situasi, bahkan kesulitan yang akan ditemui di sekolah baru.Terakhir, seorang guru hanya melayani (servant) siswanya,” ungkapnya.

Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Sumsel, Aidil Fitrisyah, juga merasakan hal serupa. Menurutnya, kurang maksimalnya guru dalam menjalankan tugasnya antara lain dipengaruhi belum terpenuhinya hak guru. ”Setiap tahun kita memperingati Hari Guru, tapi masalah guru yang menyangkut haknya masih juga belum terealisasi. Terutama, tunjangan sertifikasi, masih ada guru belum menerima tunjangan tersebut,” kata mantan Ketua PGRI Sumsel ini.

Peran guru dalam meningkatkan mutu kualitas sumber daya manusia (SDM) sangat besar. Karena itu, sudah sewajarnya pemerintah memberikan hak guru tersebut tepat waktu sehingga guru bisa termotivasi untuk menjalankan tugasnya dalam mendidik penerus bangsa. ”Tugas guru sangat berat, karena itu sudah sepatutnya pemerintah menyejahterakan kehidupan guru, karena guru juga manusia, ada anak ada keluarga yang butuh makan. Jika hal itu terganggu, dikhawatirkan akan mengganggu tugasnya dalam mengajar,” katanya.

Selain itu, pencairan dana bantuan operasional sekolah (BOS) kadang mengalami keterlambatan. Jika sudah demikian, kegiatan operasional sekolah terkendala. ”BOS itu pendukung mengajar, disamping itu jangan like or dislike atau mana yang suka di beri dan mana yang tidak sudah tidak beri. Dunia pendidikan harus bebas dari ranah politik,” katanya.

Karena itulah, pihaknya meminta semua anggaran yang dialokasikan untuk pendidikan harus diselesaikan tepat waktu. ”Solusinya dana pendidikan harus dicairkan tepat waktu,” pungkasnya.(*)

Penulis: Syamsul Fikri (085273231111)

Dikutif dari Seputar Indonesia

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: