Lanjut ke konten

BBM Langka, Bensin Tembus Rp8.000 Perliter

14 November 2011

TAMPAK antrian minyak di SPBU Kota Muaradua.

BAHAN Bakar Minyak (BBM) khususnya premium (bensin) di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan mulai langka. Sejak sepekan terakhir warga kesulitan untuk mendapatkan bensin melalui SPBU. Bensin bisa diperoleh dari penjual eceran di pinggir jalan dengan harga Rp8.000 perliter.

Anehnya, kendati persediaan BBM di SPBU selalu kehabisan, namun penjual eceran mulai menjamur. Terlebih lagi di lokasi dekat SPBU, penjual eceran cukup banyak dan selalu mempunyai stok BBM yang cukup. Pihak SPBU nampaknya sengaja menjual BBM mereka ke pengecer dengan jumlah yang banyak, sehingga stok SPBU selalu kehabisan.

Cara seperti ini, dengan sendirinya masyarakat terpaksa harus membeli BBM melalui pengecer dengan harga jauh lebih mahal dari harga ketetepan di SPBU. Banyaknya stok minyak pada pengecer ini mulai dipertanyakan masyarakat.

‘’Kami heran, kalaupun minyak langka dan stok SPBU habis kenapa penjual minyak eceran malah bertambah banyak dan mereka selalu mempunyai stok cukup banyak untuk dijual. Jangan-jangan memang ada permainan antara pengecer dan pihak SPBU,’’ ujar Sopian (34), warga Kota Muaradua yang mengaku kesal terhadap kelangkaan BBM di SPBU.

Menurut Sopian, beberapa hari lalu dirinya sempat memperhatikan pelayanan SPBU Muaradua setelah baru saja pihak SPBU mendapatkan pengisian stok dari pihak Pertamina. ‘’Waktu itu baru saja mobil tangki yang membawa BBM membongkar minyak stok SPBU untuk dijual. Kami lihat pengendara mobil dan motor sudah antrian untuk mendapatkan minyak, tapi petugas SPBU nampak kurang bersahaja dalam melayani pembeli yang membawa kendaraan. Mereka malah terlihat lebih mendahulukan masyarakat yang membeli dengan menggunakan drigen,’’ ujarnya.

Melihat fenomena ini, sangat nampak sekali kalau pihak SPBU sengaja untuk menghabiskan stok yang ada kepada para pengecer. Konon, antara pengecer dan pihak SPBU telah mematok harga kesepakatan yakni untuk perlitar BBM pihak SPBU mendapatkan Rp500.

‘’Wajar kalaupun memang ada kenaikan harga dari SPBU kepada pengecer sebesar Rp500 perliter, harga ditingkat pengecer melambung. Pihak SPBU pun tentu lebih mengutamakan pelayanan terhadap pembeli yang memberikan tambahan keuntungan pada mereka,’’ tambahnya.

Kelangkaan minyak ini menjadi sorotan salah satu anggota DPRD Kabupaten OKU Selatan M Faisal Ranopa SP. Menurutnya, wajar jika kabupaten selalu mengalami kekurangan BBM dikarenakan Quota minyak yang harus masuk masih menginduk ke Kabupaten OKU.

“Kita harus mengusulkan sendiri kepada pemerintah berapa kebutuhan minyak jenis bensin di OKU Selatan, karena agar masuknya minyak tidak sedikit. Pemerintah daerah melalui dinas terkait harusnya sudah mengusulkan berapa jumlah kendaraan dan berapa quota BBM yang harus masuk,” ungkapnya.

Dicontohkannya, jika empat tengki mobil minyak yang masuk OKU Selatan saat ini bisa mengisi 3.000 kendaraan roda dua tetapi yang lainnya tidak bisa terpenuhi, seperti kendaraan roda empat dan mesin-mesin yang digunakan penduduk mencari nafkah.

“Sedangkan saat ini jumlah motor yang terdaftar di samsat Muaradua sudah mencapai 30 ribu belum ditambah mobil dan mesin-mesin lain, jadi wajar jika setiap hari masyarakat selalu ribut urusan minyak,” ujar Anggota dewan dari partai PDK tersebut.

Untuk mengatasi hal tersebut, dirinya berharap pemerintah mengusulkan quota kebutuhan BBM untuk OKU selatan. “Karena tidak akan dipenuhi jika tidak kita usulkan dan selamanya kita akan mengalami kelangkaan minyak. Untuk itu pemerintah melalui dinas terkait harus mendata kebutuhan minyak OKU Selatan salah satunya mengacu pada jumlah kendaraan yang terdaftar di Samsat dan mengusulkan ke provinsi,” sambungnya.(*)

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: